Tidak Semua Luka Terlihat: SMK Wiworotomo Gelar Sosialisasi Pertolongan Pertama …

Tidak Semua Luka Terlihat: SMK Wiworotomo Gelar Sosialisasi Pertolongan Pertama …

PURWOKERTO – Kepedulian terhadap kesehatan mental di kalangan remaja menjadi perhatian penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan suportif. Sebagai bentuk nyata kepedulian tersebut, SMK Wiworotomo Purwokerto bekerja sama dengan Puskesmas Purwokerto Barat menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis pada Senin, 2 November 2026, bertempat di Aula SMK Wiworotomo Purwokerto.

Kegiatan ini diikuti oleh 50 peserta yang merupakan perwakilan anggota organisasi OSIS, Palang Merah Remaja (PMR), Paskibra, dan Pramuka. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya promotif kesehatan jiwa di lingkungan sekolah sekaligus langkah awal dalam membentuk kader kesehatan jiwa (First Aider) dari kalangan peserta didik.

Hadir sebagai narasumber dari Puskesmas Purwokerto Barat, Ibu Rizqi Adiarti dan Bapak Imam As’ Arie, Ns. Keduanya menyampaikan materi mengenai Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis, khususnya pentingnya mengenali kondisi emosional seseorang, memahami dampak pengalaman traumatis maupun tekanan psikologis, serta memberikan dukungan awal kepada individu yang sedang mengalami permasalahan kesehatan mental.

Luka psikologis tidak selalu terlihat secara fisik. Pengalaman traumatis, tekanan berat, perundungan, konflik, hingga permasalahan keluarga dapat meninggalkan dampak emosional yang memengaruhi kehidupan sehari-hari seseorang, termasuk proses belajar dan interaksi sosial di lingkungan sekolah.

Melalui sosialisasi ini, para peserta mendapatkan pemahaman mengenai cara mengenali tanda-tanda seseorang yang sedang mengalami tekanan psikologis, memberikan respons yang tepat, menjadi pendengar yang baik, serta mengetahui langkah yang perlu dilakukan untuk menghubungkan individu tersebut dengan bantuan profesional apabila diperlukan.

Pemilihan anggota OSIS, PMR, Paskibra, dan Pramuka sebagai peserta juga menjadi bagian penting dari kegiatan ini. Sebagai organisasi yang aktif dalam kehidupan dan interaksi antarpeserta didik, para anggotanya diharapkan dapat menjadi pelopor kepedulian, membangun lingkungan pertemanan yang suportif, serta turut menciptakan suasana sekolah yang aman dan ramah terhadap kesehatan mental.

Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung. Materi yang disampaikan memberikan perspektif baru bagi para siswa mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental, baik untuk diri sendiri maupun orang-orang di sekitar.

Keylilla Putri Fauzi, selaku Ketua OSIS SMK Wiworotomo Purwokerto, menyampaikan, “Menurut saya, materi mengenai pertolongan pertama pada luka psikologis sangat penting bagi para remaja, khususnya Generasi Z. Saat ini, masih banyak remaja yang kurang memperhatikan kesehatan diri sendiri, terutama kesehatan jiwa. Melalui materi ini, kami menjadi lebih memahami luka psikologis yang mungkin dialami diri sendiri serta pentingnya mengenali dan menjaga kesehatan mental.”

Sementara itu, Zeta Mahardika Nahdi, salah satu anggota Pramuka, mengungkapkan, “Menurut saya, pertolongan pertama pada luka psikologis di sekolah sangat penting karena tidak semua luka dapat terlihat secara fisik. Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi siswa. Oleh karena itu, seluruh warga sekolah perlu memiliki empati dan kepedulian terhadap teman yang sedang mengalami masalah psikologis, seperti kesedihan, kecemasan, perundungan, maupun permasalahan keluarga.”

Kedua pendapat tersebut menunjukkan bahwa kepedulian terhadap kesehatan mental perlu dibangun sejak dini. Hal sederhana seperti mendengarkan tanpa menghakimi, memberikan dukungan, dan tidak mengabaikan kondisi emosional teman dapat menjadi langkah awal dalam menciptakan lingkungan sekolah yang lebih peduli.

Melalui kegiatan ini, SMK Wiworotomo Purwokerto berharap terbentuknya kader-kader kesehatan jiwa yang tidak hanya memiliki kepedulian terhadap sesama, tetapi juga mampu memberikan pertolongan awal secara tepat dan bertanggung jawab. Para peserta diharapkan dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari serta menjadi penggerak budaya saling peduli di lingkungan sekolah.

Karena kesehatan bukan hanya tentang tubuh yang sehat, tetapi juga tentang jiwa yang kuat. Peduli, mendengarkan, dan hadir bagi sesama adalah langkah awal membangun generasi yang lebih sehat secara fisik maupun mental.

Scroll to Top